Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga Divonis Hukuman Mati Dan Ingin Tetap Menikah

Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga Divonis Hukuman Mati Dan Ingin Tetap Menikah

Satu tahun yang lalu, tepatnya di akhir tahun 2018, publik dikagetkan dengan kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat.

Sekarang kasus itu sudah memasuki babak yang baru.

Tersangka tersebut sudah divonis mendapatkan hukuman mati agar mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah ia lakukan.

Harris Simamora tersangka pembunuh telah membunuh Deaperum Nainggolan juga beserta istri juga ke dua anaknya di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati,  Bekasi, Jawa Barat, (12/11/2018).

Harris membunuh kedua pasangan suami istri tersebut menggunakan linggis karena kesal sering diolok-olok korban.

Sementara itu juga, dua anak Daperum yang bernama Sarah Marisa Putri Nainggolan (9) juga Yehezkiel Arya Paskah Nainggolan (7), dibekap lalu dicekik sampai meninggal dunia.

Selesai membunuh Harris kemudian mengambil beberapa jumlah uang milik keluarga Daperum lalu membawa salah satu mobil korbat tersebut menuju Garut, Jawa Barat, dan melarikan diri.

Akibat perbuatan yang telah dilakukannya, Harris dipenjara juga menjalani proses persidangan. Sampai saat ini, Harris dua kali divonis mati.

Yang pertama diputuskan Pengadilan Negeri Bekasi di bulan Juli 2019. Kemudian yang kedua diputuskan Pengadilan Tinggi Jawa Barat lalu menolak memori bandingnya di bulan November 2019.

Kuasa hukum Harris kemudian menempuh kasasi menuju ke Mahkamah Agung.

Mereka berkeberatan dengan pengenaan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan menjerat Harris kemudian membuat dirinya dijatuhi vonis mati.

“Dalam kasasi, kita koreksi pertimbangan hukumnya. Pertimbangan hukum kita merupakan, situasi Harris pada saat itu tidak berencana melakukan pembunuhan tersebut, namun seketika melakukannya. Dan Itu saja intinya,” ucap Alam Simamora , Jumat (20/12/2019).

Harris akan menunggu kelanjutan nasibnya melalui yang akan menjadi putusan kasasi Mahkamah Agung dan diperkirakan keluar di bulan Februari sampai Maret 2020.

Ingin menikah

Harris ternyata memendam keinginan untuk melakukan pernikahan, apa pun keputusan Mahkamah Agung nanti.

Belum diketahui, pernikahan tersebut merupakan keinginan terakhir Harris atau bukan.

“Dengan berjalannya waktu, dia berkata sama saya, Aku mau kawin’,” ucap Alam Simamora.

Alam agak kaget dalam keinginan Harris itu, walaupun ia menghormati keinginan tersebut.

Alam meminta Harris agar menunda pernikahannya dan semula direncanakan pada November 2019 lalu, sampai kasusnya berkekuatan hukum tetap dan seusai putusan Mahkamah Agung.

“Kalau saat ini kan menjadi terdakwa dan kemungkinan itu akan sulit mendapat izin dari lapas. Namun jika sudah sebagai terpidana. Narapidana punya hak, sebagai hak manusianya,” kata Alam.

“Saya bilang kepada Harris, tunggu turun dulu putusan kasasi. Mungkin di bulan Februari (2020),” ucap dia.

Harris juga calon istrinya, ungkap Alam, bertemu disaat Harris telab menjadi tersangka karena kasus pembunuhan menjeratnya.

Harris sampai meminta izin menuju petugas Lapas Bulak Kapal, Bekasi agar bertemu saat wanita tersebut ada di sana.

Wanita itu bukanlah narapidana. Dan Alam tidak mau memberikan profil wanita tersebut.

“Saya pernah melihat dia namun tidak tahu ketika itu di mana. Saya pengen menemuinya. Saya lihat dia saat di lapas, kemudian saya meminta izin kepada polisi jika saya mau bertemu bersama dia sebagai teman. Kemudian saya diizinkan,” ucap Alam saat menirukan pengakuan Harris pada dirinya.

“Dia Harris bilang ke saya, saya adalah penggemarmu. Lalu wanita itu tidak percaya, dikiranya petugas. Karena bersemangat berkunjung, dan pada akhirnya terjadi ungkapan kasih itu,” imbuh Alam.

Alam memastikan, keduanya telah bertekad bulat untuk menikah.